Kecelakaan pesawat ATR 42-500 di Sulsel masih menjadi misteri. Meskipun terjadi kecelakaan yang parah, pihak investigasi belum menemukan penyebabnya. "Pada tahap ini, kami belum berada dalam posisi untuk menyimpulkan penyebab kejadian. Semua akan dianalisis dan disampaikan secara resmi oleh KNKT," kata Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Lukman F. Laisa.
Ternyata pesawat yang terkena bahaya ini dilaporkan hilang kontak saat melakukan penerbangan dari Yogyakarta menuju Makassar pada Sabtu lalu. Tim SAR gabungan kemudian menemukan serpihan pesawat di kawasan Gunung Bulusaraung, perbatasan Kabupaten Maros dan Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan.
Penemuan serpihan dilakukan pada Minggu lalu melalui operasi pencarian darat dan udara. TNI Angkatan Udara mengerahkan pesawat tanpa awak sejak pukul 06.15 WITA, yang kemudian dilanjutkan dengan penyisiran menggunakan helikopter. Pada pukul 07.46 WITA, tim mengidentifikasi serpihan berupa jendela sebagai penanda awal lokasi kecelakaan, disusul temuan bagian besar badan pesawat dan ekor pada pukul 07.49 WITA.
Menurut Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, seluruh kru pesawat dalam kondisi laik terbang. Data Medical Examination (MEDEX) menunjukkan seluruh awak memiliki sertifikat kesehatan yang masih berlaku dan dinyatakan fit sesuai ketentuan Civil Aviation Safety Regulations (CASR) Part 67 pada saat bertugas.
Sementara itu, pihak Kemenhub masih menjaga kepercayaan publik bahwa penyebab kecelakaan pesawat ini belum diketahui. Selain itu, investigasi Knkt akan melanjutkan untuk mencari tahu penyebab kecelakaan pesawat ATR 42-500 tersebut.
Ternyata pesawat yang terkena bahaya ini dilaporkan hilang kontak saat melakukan penerbangan dari Yogyakarta menuju Makassar pada Sabtu lalu. Tim SAR gabungan kemudian menemukan serpihan pesawat di kawasan Gunung Bulusaraung, perbatasan Kabupaten Maros dan Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan.
Penemuan serpihan dilakukan pada Minggu lalu melalui operasi pencarian darat dan udara. TNI Angkatan Udara mengerahkan pesawat tanpa awak sejak pukul 06.15 WITA, yang kemudian dilanjutkan dengan penyisiran menggunakan helikopter. Pada pukul 07.46 WITA, tim mengidentifikasi serpihan berupa jendela sebagai penanda awal lokasi kecelakaan, disusul temuan bagian besar badan pesawat dan ekor pada pukul 07.49 WITA.
Menurut Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, seluruh kru pesawat dalam kondisi laik terbang. Data Medical Examination (MEDEX) menunjukkan seluruh awak memiliki sertifikat kesehatan yang masih berlaku dan dinyatakan fit sesuai ketentuan Civil Aviation Safety Regulations (CASR) Part 67 pada saat bertugas.
Sementara itu, pihak Kemenhub masih menjaga kepercayaan publik bahwa penyebab kecelakaan pesawat ini belum diketahui. Selain itu, investigasi Knkt akan melanjutkan untuk mencari tahu penyebab kecelakaan pesawat ATR 42-500 tersebut.