Presiden AS Donald Trump mengatakan serangan militer AS terhadap Venezuela hanya bagian dari pembaharuan Doktrin Monroe yang telah digaungkan oleh Presiden ke-5 AS, James Monroe. Menurut Trump, Doktrin Monroe adalah hal penting, tetapi sekarang sudah jauh melampaui aslinya.
Doktrin Monroe dikenal sebagai salah satu kebijakan luar negeri yang pertama kali disampaikan oleh Presiden ke-5 AS, James Monroe. Dalam pernyataannya pada tahun 1823, Monroe menegaskan bahwa Belahan Bumi Barat merupakan wilayah kepentingan Amerika Serikat. Ia juga mengajukan tekanan kepada negara-negara Eropa untuk tidak lagi melakukan kolonisasi atau campur tangan politik di kawasan tersebut.
Namun, sejak awal penerapannya, sikap AS ini tidak selalu disambut positif oleh negara-negara tetangga di Amerika. Mereka kerap memandangnya sebagai bentuk dominasi terselubung. Dalam praktiknya, Doktrin Monroe berkembang jauh melampaui pernyataan awalnya.
Doktrin ini kembali mencuat dalam konteks Perang Dingin. Pada Krisis Rudal Kuba tahun 1962, Presiden John F. Kennedy secara simbolis mengacu pada doktrin ini saat menentang penempatan rudal nuklir Uni Soviet di Kuba.
Sekarang, Donald Trump menggunakan Doktrin Monroe sebagai alasan untuk membenarkan serangan AS terhadap Venezuela. Namun, apakah serangan militer AS ini sebenarnya mengikuti prinsip-prinsip asli Doktrin Monroe? Atau apakah Trump hanya menggunakan doktrin ini sebagai alasan untuk meningkatkan kekuasaan AS di kawasan Amerika Latin?
Tidak ada jawaban pasti, namun satu hal yang jelas adalah bahwa serangan militer AS terhadap Venezuela telah menimbulkan kecaman dari banyak pihak.
Doktrin Monroe dikenal sebagai salah satu kebijakan luar negeri yang pertama kali disampaikan oleh Presiden ke-5 AS, James Monroe. Dalam pernyataannya pada tahun 1823, Monroe menegaskan bahwa Belahan Bumi Barat merupakan wilayah kepentingan Amerika Serikat. Ia juga mengajukan tekanan kepada negara-negara Eropa untuk tidak lagi melakukan kolonisasi atau campur tangan politik di kawasan tersebut.
Namun, sejak awal penerapannya, sikap AS ini tidak selalu disambut positif oleh negara-negara tetangga di Amerika. Mereka kerap memandangnya sebagai bentuk dominasi terselubung. Dalam praktiknya, Doktrin Monroe berkembang jauh melampaui pernyataan awalnya.
Doktrin ini kembali mencuat dalam konteks Perang Dingin. Pada Krisis Rudal Kuba tahun 1962, Presiden John F. Kennedy secara simbolis mengacu pada doktrin ini saat menentang penempatan rudal nuklir Uni Soviet di Kuba.
Sekarang, Donald Trump menggunakan Doktrin Monroe sebagai alasan untuk membenarkan serangan AS terhadap Venezuela. Namun, apakah serangan militer AS ini sebenarnya mengikuti prinsip-prinsip asli Doktrin Monroe? Atau apakah Trump hanya menggunakan doktrin ini sebagai alasan untuk meningkatkan kekuasaan AS di kawasan Amerika Latin?
Tidak ada jawaban pasti, namun satu hal yang jelas adalah bahwa serangan militer AS terhadap Venezuela telah menimbulkan kecaman dari banyak pihak.