Doktrin Monroe, prinsip lama yang membagi dunia ke dalam wilayah-wilayah pengaruh, kembali menyoroti bagaimana AS memaknai perannya di Amerika Latin. Donald Trump, presiden AS kelima yang baru mengatakan, "doktrin ini adalah hal besar, tapi kami telah melampuinya jauh". Pernyataan itu muncul setelah serangan terhadap Venezuela dengan merujuk pada doktrin lama tersebut.
Doktrin Monroe diperingatkan oleh James Monroe pada 2 Desember 1823. Ia memperingatkan negara-negara Eropa agar tidak mencampuri urusan di kawasan Amerika. Monro juga menyatakan bahwa setiap bentuk intervensi Eropa di benua Amerika akan dipandang sebagai serangan terhadap Amerika Serikat.
Namun, doktrin Monroe juga memiliki aspek kolonialis. AS berjanji mengakui dan tidak mencampuri koloni-koloni Eropa yang sudah ada maupun urusan dalam negeri negara-negara Eropa. Namun, AS menuntut agar Eropa melepaskan keterlibatan lebih lanjut di wilayah tersebut.
Doktrin Monroe juga digunakan sebagai pembenaran bagi intervensi Amerika Serikat di Republik Dominika, Haiti, dan Nikaragua. Ronald Reagan, presiden AS pada 1980-an, mendukung kelompok sayap kanan Contras melawan pemerintahan kiri Sandinista di Nikaragua.
Kuba juga telah lama berada di bawah tekanan intensif Amerika Serikat sejak revolusi Fidel Castro. Selain itu, terdapat laporan mengenai upaya-upaya untuk memicu kudeta terhadap pendahulu Maduro, Hugo Chávez, sebelum ia meninggal dunia pada 2013.
Doktrin Monroe masih menjadi perdebatan tentang makna, sejarah, dan penerapan doktrin tersebut. Kebijakan AS di Amerika Latin tetap menimbulkan kontroversi hingga hari ini.
Doktrin Monroe diperingatkan oleh James Monroe pada 2 Desember 1823. Ia memperingatkan negara-negara Eropa agar tidak mencampuri urusan di kawasan Amerika. Monro juga menyatakan bahwa setiap bentuk intervensi Eropa di benua Amerika akan dipandang sebagai serangan terhadap Amerika Serikat.
Namun, doktrin Monroe juga memiliki aspek kolonialis. AS berjanji mengakui dan tidak mencampuri koloni-koloni Eropa yang sudah ada maupun urusan dalam negeri negara-negara Eropa. Namun, AS menuntut agar Eropa melepaskan keterlibatan lebih lanjut di wilayah tersebut.
Doktrin Monroe juga digunakan sebagai pembenaran bagi intervensi Amerika Serikat di Republik Dominika, Haiti, dan Nikaragua. Ronald Reagan, presiden AS pada 1980-an, mendukung kelompok sayap kanan Contras melawan pemerintahan kiri Sandinista di Nikaragua.
Kuba juga telah lama berada di bawah tekanan intensif Amerika Serikat sejak revolusi Fidel Castro. Selain itu, terdapat laporan mengenai upaya-upaya untuk memicu kudeta terhadap pendahulu Maduro, Hugo Chávez, sebelum ia meninggal dunia pada 2013.
Doktrin Monroe masih menjadi perdebatan tentang makna, sejarah, dan penerapan doktrin tersebut. Kebijakan AS di Amerika Latin tetap menimbulkan kontroversi hingga hari ini.