Apa Arti Mens Rea Pandji, Isi Materi, & Bisa Nonton di Mana?

Mens Rea Pandji Pragiwaksono, serangkaian kritik tajam terhadap kondisi politik dan sosial Indonesia setelah Pilpres 2024. Konsep ini menegaskan bahwa hukum pidana membedakan antara perbuatan yang dilakukan secara tidak sengaja dengan perbuatan yang dilakukan dengan niat jahat.

Pandji Pragiwaksono, komika ternama tanah air itu, mengkritik carut-marut perpolitikan nasional, termasuk perilaku elite politik, praktik kekuasaan, serta dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari masyarakat. Ia menyoroti kasus mantan jenderal polisi yang terseret narkoba dan mengemas ironi tersebut sebagai lelucon di tepi jurang.

Pandji juga menyinggung fenomena pemimpin dari kalangan artis, yang menurutnya mencerminkan cara berpikir masyarakat dalam memilih pemimpin. Ia mengkritik pemilih yang lebih mengutamakan popularitas, agama, dan citra ketimbang kapasitas, rekam jejak, dan kompetensi.

Tema politik balas budi juga menjadi sorotan penting. Pandji mengkritik kondisi politik setelah Pilpres 2024, ketika partai-partai yang sebelumnya berseberangan akhirnya bergabung ke dalam pemerintahan demi jatah kekuasaan.

Minimnya oposisi dinilai berpotensi melemahkan fungsi check and balances, sehingga pemerintah dapat menjalankan kebijakan tanpa pengawasan parlemen yang kuat. Dalam konteks ini pula, Pandji menggunakan analogi penerimaan izin konsesi tambang oleh NU dan Muhammadiyah sebagai ilustrasi politik timbal balik.

Isu keadilan hukum dirangkum Pandji dalam slogan "no viral, no justice". Ia mengkritik realitas bahwa banyak kasus baru ditangani serius setelah viral di media sosial. Menurut Pandji, kondisi ini membuat masyarakat kehilangan harapan terhadap institusi penegak hukum dan dipaksa bergantung pada kekuatan viral semata.

Selain itu, Pandji juga melontarkan kritik terhadap presiden dan keluarga, khususnya terkait privilege politik. Ia menyinggung Kaesang Pangarep yang disebut secara instan menjadi ketua umum partai hanya dalam waktu singkat, serta gaya kampanye Prabowo Subianto.

Mens Rea turut mengangkat isu Rempang Eco-City, penggusoran warga, relasi negara dan investasi asing, serta kritik terhadap proyek strategis nasional. Melalui analogi ekstrem dan joke call back "wo yao chi chao fan", Pandji menyampaikan kegelisahan tentang perampasan ruang hidup rakyat atas nama pembangunan.

Pandji Pragiwaksono, serangkaian kritik tajam terhadap kondisi politik dan sosial Indonesia setelah Pilpres 2024.
 
iya aja, konten ini memang nggak enak lihat apa yang terjadi di indonesia setelah pilpres 2024 πŸ€•. suka banget dia mengkritik carut marut perpolitikan nasional, terutama praktik kekuasaan yang bikin rakyat merasa frustrasi 😑. tapi yang paling nggak enak aja, dia nggak bisa ngatakan apa yang sebenarnya terjadi di balik scenera ini, gampangnya dia jadikan humor dan lelucon, tapi apakah nggak perlu ada sisi serius dan konstruktif dalam kritiknya? πŸ€”.
 
Ooiiiee 😊, aku pikir si Pandji Pragiwaksono ngejek banget terhadap kondisi politik Indonesia yang kambuh setelah Pilpres 2024! πŸ˜‚ Aku setuju dengan dia, perpolitikan nasional jadi semakin sering dan tidak transparan. Lalu gimana caranya kita bisa percaya pada partai-partai yang kita pilih? πŸ€”

Aku suka adegannya tentang penggusoran warga di Rempang Eco-City, itu ngga main-main nih! πŸ™…β€β™‚οΈ Siapa yang bilang bahwa pembangunan harus mengorbankan kehidupan masyarakat? 🚫 Aku harap siapapun yang terlibat dalam proyek tersebut bisa melihat logika dari sudut pandang warga. πŸ’‘

Tapi, aku juga pikir Pandji Pragiwaksono nggak cuma ngejek aja, dia juga memberikan solusi banget! 🀝 Dia ingin kita fokus pada kapasitas dan kompetensi pemimpin, bukan hanya popularitas atau citra. πŸ’Ό Aku setuju dengan itu, kita perlu memilih pemimpin yang benar-benar peduli dengan rakyat, bukan hanya sendiri-sendiri. πŸ‘
 
Kalau punya uang, aja jangan buat masalah! πŸ€‘ Selain itu, rasanya kabar baik kalau bisa mengubah diri agar tidak menjadi penghamburan masyarakat. Kita harus belajar dari kesalahan kita sendiri! 😊
 
Aku pikir kalau kita jangan terlalu kaget dengan perubahan perpolitikan, deh. Kita udah nggak percaya lagi siapa yang bakal menjadi pemimpin, kan? Sekarang semua partai bisa bergabung bersama-sama demi jatah kekuasaan... itu kayaknya sama sekali tidak masuk akal! πŸ™„

Sudah pasti, makin banyak oposisi, makin kuat pemerintahan. Aku rasa perlu ada beberapa korban kecil sebelum kita bisa bangun dari krisis ini. Kalau kita jangan tahu siapa yang harus ditekan, maka siapa yang akan menjadi tujuan tekanan itu? πŸ€”

Dan apa dengan slogan "no viral, no justice"? Aku rasa itu kayaknya sangat sederhana... dan bisa dipahami oleh siapa saja. Tapi aku pikir perlu ada beberapa kata-kata yang lebih kuat, ya... 😏
 
Gini nih, kalau kamu mau ngobrol tentang kritik dari Pandji Pragiwaksono, aku pikir dia benar-benar tepat saat menyerang fenomena pemimpin artis yang hanya memilih karena popularitas bukannya kapasitas. Kalau kamu pikir ini adalah contoh keseimbangan antara kekuasaan dan perhatian masyarakat, tapi ayo coba bayangkan bagaimana rasanya jika kamu memilih wakil parlemen berdasarkan citra saja! Gak akan ada transparansi dan akuntabilitas dalam pemerintahan. Saya pikir ini sudah menjadi masalah yang perlu diatasi sekarang juga, jadi kita harus lebih bijak dalam memilih pemimpin kami.
 
Gue rasa kalau cirebonan kaca tulis itu terlalu keras sama Pandji Pragiwaksono πŸ€”. Siapa yang bilang dia tidak berani mengkritik siapa pun? Dia hanya ingin membuat kita rasa iri dengan humor-nya, bukan memecahkan es ke palu πŸ˜‚. Nah, aku setuju kalau ada masalah, tapi harus dilakukan dengan cara yang lebih santai aja, nggak perlu membuat lawan marah 😊.

Dan aku pikir "no viral, no justice" itu seperti slogan yang sengaja dibuat untuk jadi topik kontroversi, biar cirebonan kaca tulis itu tetap populer πŸ€·β€β™‚οΈ. Gue rasa kalau kita harus lebih santai dalam mengkritik, nggak perlu membuat lawan jatuh ke dalam kekecewaan πŸ˜’. Dan aku rasa Pandji Pragiwaksono itu masih salah satu komika terbaik di Indonesia 🀩.
 
Gue pikir kalau nanti kita nggak bisa terlalu senang dengan hasil pilpres 2024 nih πŸ€”. Tapi, apa sih yang salah? Kita masih memiliki masalah keadilan, korupsi, dan politik balas budi yang sama seperti sebelumnya πŸ™„. Gue rasa kita harus lebih sengaja memilih pemimpin yang benar-benar bisa mengurus masalah ini, bukan hanya karena popularitas atau agama πŸ”₯. Dan apa sih dengan fenomena 'pemimpin tanpa kompetensi' nih? Kita harus lebih teliti dalam memilih who kita pilih untuk menggantikan orang tua 😐.
 
Kasus ini kayak banget, nggak bisa nggak terpikir kalau suatu saat kita semua akan jadi korban dari sistem yang nggak berarti. Warga Rempang Eco-City itu kayak gila, nggak peduli aja sama-sama apa kabar dengan warganya, kan? Yang penting adalah proyek strategis nasional dan kepentingan investor asing. Maksudnya apa sih, kalau kita harus membuang nyawa rakyat untuk kemajuan negara? Semua itu kayak ngelantong kayak orang tua yang suka bilang "bayangkan anakku ingin menjadi orang kaya", tapi bayangkan apakah anak kita akan suka menanggung beban hidup ini?
 
Maksudnya sih, konsep ini ngebawa perasaan tidak nyaman ya... Saya rasa sistem yang ada sekarang itu terlalu fokus pada popularitas dan citra, tapi lupa tentang kapasitas dan kompetensi. Kalau seperti itu, bagaimana caranya kita bisa yakin bahwa mereka yang diawasi ini benar-benar siap menjalankan kebijakan yang baik? πŸ€”

Dan apa dengan perpolitikan yang seringkali berantakan seperti itu? Saya rasa ada sesuatu yang tidak beres, tapi saya nggak bisa menentukan apa lagi. Saya rasa perlu ada perubahan dari dalam, tapi saya nggak tahu bagaimana cara itu. Mungkin kita harus mulai dari diri sendiri ya... πŸ™
 
Masyarakat kita sudah benar-benar kaget dengan caranya para politiker kita bekerja sama di pihak yang lain, padahal sebelumnya mereka lagi-lagi berlawanan. Itu memang membuat saya bingung sih... πŸ€”

Pikiran saya ini ingin bertanya: apa artinya kita pilih pemimpin dengan cara yang lebih cepat dan populer? Bukannya kita harus memilih orang yang tepat untuk memimpin kita? Apa lagi dengan hal ini, banyak orang yang terkesan dengan kemampuan dari orang-orang yang kita pilih, padahunya juga tidak memiliki kompetensi yang benar-benar memadai. πŸ˜•

Mungkin ada solusi di sini, kita harus lebih berhati-hati saat memilih pemimpin dan lebih memfokuskan pada kompetensi dan kemampuan mereka. Dan pastikan bahwa kekuasaan tidak hanya dikuasai oleh elite saja, tapi juga bisa dimanfaatkan oleh masyarakat secara yang adil. πŸ™
 
ini kayaknya kondisi politik ngejut banget setelah pilpres 2024 🀯! si apa lagi yang terjadi ya? semua partai yang sebelumnya benci, akhirnya bergabung ke dalam pemerintahan demi jatah kekuasaan. ini kayaknya tidak masuk akal dan nggak ada opsi untuk masyarakat πŸ˜”. saya pikir itu membuat sistem politik kita jadi macet dan nggak efektif lagi. kalo ini terus terjadi, maka kita harus berubah ya! πŸ”„
 
Gue pikir kalau kita harus ngobrol tentang politik di Indonesia sekarang, kita harus ngomong tentang bagaimana kita bisa membuat sistem yang lebih adil, ya? Kita harus ingat bahwa sebagai masyarakat, kita adalah pemilih utama, jadi kita harus bijak dalam memilih pejabat publik. Tidak semua orang yang populer selalu ada niat baik untuk membantu negara. Kita harus melihat kemampuan dan rekam jejak seseorang sebelum memutuskan apakah mereka layak di jabatan tertentu.

Saya juga pikir bahwa kita harus lebih bijak dalam menilai informasi yang kita terima dari media sosial. Kita tidak bisa sembarangan percaya diri pada hal-hal yang viral tanpa mempertimbangkan kebenarannya. Ini karena itu, kita harus menjadi kritis dan tidak mudah dipengaruhi oleh opini orang lain.

Tapi, gue juga pikir bahwa komika seperti Pandji Pragiwaksono sangat penting dalam memberikan kritik yang tegas tentang kondisi politik Indonesia. Mereka bisa membuat kita tertawa saat kita sedang marah, dan kemudian kita bisa melihat dari sudut pandang lain, ya?
 
Saya pikir kalau kita lihat data dari survei tentang kepuasan rakyat, ya itu 55,6% yang kurang puas dengan pemerintahan saat ini πŸ“Š. Maksudnya apa? Saya nggak tahu, tapi saya tahu kalau itu penting banget. Lalu, kita lihat data dari organisasi-organisasi sosial seperti Komnas HAM, ya mereka melaporkan masih banyak kasus penganiayaan dan diskriminasi terhadap minoritas, 73% kasus yang dilaporkan tersebut belum diresolusi πŸ•°οΈ. Tapi apa yang bisa kita lakukan? Saya rasa kita perlu meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya hukum dan keadilan.

Saya juga lihat data dari BPS, ya mereka bilang ada 12,2% penduduk Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan πŸ“ˆ. Saya pikir itu cukup banyak banget! Tapi apa yang bisa kita lakukan? Saya rasa kita perlu meningkatkan upaya pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Saya rasa kalau kita lihat data dari media sosial, seperti Twitter dan Instagram, ya itu 40% postingan yang negatif tentang pemerintahan πŸ€–. Saya pikir itu cukup banyak banget! Tapi apa yang bisa kita lakukan? Saya rasa kita perlu meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya kritik konstruktif dan tidak berlebihan dalam memberikan pendapat.
 
Wah cinta sayangnya kita ini selalu mengorbankan masing-masing diri untuk jatah kekuasaan. Aku pikir kalau kita harus memilih antara populisme atau kemampuan, pasti aku akan memilih yang paling serius πŸ€”
 
Kalau nggak sengaja kita lihat keadaan politik di Indonesia sekarang, rasanya benar-benar buai 😳. Mantan jenderal polisi yang terseret narkoba, pemimpin artis yang hanya peduli dengan citra, dan pemerintah yang lebih mengutamakan kekuasaan daripada kapasitas... kalau nggak kita lihat secara sengaja, rasanya seperti kita sedang menjatuhkan kepalaku πŸ˜‚. Slogan "no viral, no justice" itu benar-benar mempengaruhi masyarakat kita, karena banyak kasus baru yang ditangani serius setelah viral di media sosial. Kita tidak bisa percaya lagi dengan institusi penegak hukum ini, dan harus bergantung pada kekuatan viral semata... waduh, rasanya begitu frustrasi 😑.
 
Aku rasa gini juga deh, kalau hanya karena viral, kasus baru jadi serius aja. Siapa yang mau tanggung kejujuran dan akuntabilitas? Semua bisa dibawa viral saja, lama-kalinya nggak penting. Dan kenapa harus begitu? Kita sudah lelah dengan pilihan-pilihan politis yang sama-siapa. Waktu nge-entertainment nggak ada masalah, tapi kalau kasus baru ditangani serius, siapa yang mau tanggung kejujuran dan akuntabilitas?

Dan aku rasa perampasan ruang hidup rakyat atas nama pembangunan juga makin serius. Kita udah nggak punya ruang hidup yang cukup aja, gimana caranya lagi kita harus di- push and shove untuk jadi tempat liburan bagi investor asing?
 
Kasus ini pasti lagi proof bahwa sistem politik kita kotor banget 🀒 Kita hanya bicara tentang hukum pidana tapi di baliknya ada konsep yang jauh lebih kompleks tentang kekuasaan dan politik balas budi. Semua kasus korupsi dan penipuan yang dilakukan oleh elite politik itu, apa yang dilakukan mereka? Mereka malah menjadi 'sorbet' untuk pemerintah, membuat mereka bisa berkuasa tanpa harus menjawab tangannya πŸ€¦β€β™‚οΈ.

Saya tidak percaya masih banyak orang yang memilih pemimpin hanya karena popularitas atau citra, bukan kapasitas dan kompetensi. Itu tidak jadi solusi bagi masalah kita, malah membuat kesan bahwa kita lebih buta daripada sebelumnya πŸ˜”. Dan apa yang harus kita lakukan? Semua bisa menjadi 'viral' di media sosial, tapi itu belum tentu berarti ada perubahan nyata πŸ€¦β€β™‚οΈ.

Dan Rempang Eco-City siapa sih nanti? Kita terus-terang membiarkan mereka menggusor warga dan merebut ruang hidup kita semua. Semua itu hanya untuk nama 'pembangunan' yang tidak pernah dibawa ke tingkat masyarakat 😑.
 
πŸ€” Kalau gini kondisi politik indonesia sekarang memang ngerasa makin parah. Semua orang kaya bisa berlari keparang, tapi apa aja yang dibawa oleh rakyat? πŸ€‘ Jangan lupa ada si mantan jenderal polisi yang terseret narkoba, gini kayaknya bukan sifat elite politik yang baik juga πŸ’”. Lalu apa dengan proyek Rempang Eco-City? Siapa bilang ini kebaikan dari pemerintah? πŸ€·β€β™‚οΈ Semua yang perlu dipertimbangkan adalah bagaimana dampaknya terhadap masyarakat, bukan hanya tentang kemewahan pihak yang berkuasa. πŸ˜’
 
Kasus yang bikin aku pikir masyarakat Indonesia ini masih banyak lagi kerumitan di balik kepolitian kita πŸ€”. Apalagi sekarang ketika banyak tokoh yang mengkritik dari segala sisi, tapi siapa yang benar? πŸ™„ Aku rasa ada yang harus ditekan dari depan, bukan hanya dengan menyerang lawan. Kita perlu fokus pada hal-hal yang nyata dan tidak hanya mempolitisikan kehidupan sehari-hari kita 🀝.

Dan siapa yang mengatakan bahwa elite politik dan praktik kekuasaan itu tidak ada masalah? Aku rasa masyarakat Indonesia ini masih belum cukup sadar tentang apa yang benar dan salah dalam sistem pemerintahan kita πŸ’­. Kita harus terus berdiskusi dan menemukan solusi bersama untuk membuat Indonesia menjadi lebih baik 🌈.

Dan mungkin aku juga ingin mengatakan bahwa ada cara untuk membuat perubahan, tapi itu membutuhkan kerja sama dan tekad yang kuat dari semua pihak πŸ’ͺ. Kita tidak bisa terus berada di posisi penunggu dan harapan saja, kita harus menjadi pejuang bagi perubahan positif 🌟.
 
kembali
Top