Anies di Raker Gerakan Rakyat: Sawit Beda dengan Pohon Hutan

Menurut Anies Baswedan, calon Presiden 2024 yang saat ini menjabat sebagai Gubernur Jakarta, kelapa sawit tidak bisa menggantikan hutan hujan tropis. Dengan kata lain, penggunaan lahan untuk perkebunan sawit bukanlah alternatif yang baik untuk menyelamatkan lingkungan.

"Kita harus sadar bahwa sawit dan pohon lainnya memiliki siklus penyerapan karbondioksida yang berbeda. Kebanyakan spesies hutan dapat hidup di kawasan perkebunan, tapi tidak ada 100 persen," kata Anies dalam sambutannya selama rapat kerja nasional Gerakan Rakyat di Jakarta Pusat, Sabtu lalu.

Pada dasarnya, sawit memiliki siklus penyerapan yang lebih pendek dan penyimpanan karbondioksida yang terbatas. Selain itu, sistem akar pohon hutan dalam dan kompleks memungkinkannya menyerap air, menahan tanah, dan mengatur aliran sungai. Sedangkan akar sawit dangkal dan horizontal sehingga ketika hujan deras, air langsung mengalir di permukaan sawit.

"Karena itu, pada saat terjadi hujan yang luar biasa kemarin, kawasan yang ada areal sawitnya dampaknya lebih parah dibandingkan dengan kawasan hutan. Lalu tidak cukup soal itu," katanya.

Selain itu, Anies juga menekankan bahwa kelapa sawit bukan hanya memiliki peran sebagai pohon fotosintesis, tetapi juga menjadi habitat satwa hutan seperti harimau Sumatera, gajah, dan badak. "Mereka semua belum bisa hidup di perkebunan. Belum bisa. Jadi mereka membutuhkan hutan," ujarnya.

Pernyataan Anies ini juga ramai diperbincangkan di media sosial setelah kejadian bencana Sumatera pada akhir November lalu. Air bah turut membawa gelondongan kayu, dan banjir diduga akibat adanya alih fungsi lahan.
 
Gue pikir penuh waktunya harus berpikir kembali tentang perkebunan kelapa sawit. Mereka bilang kalau tidak bisa menggantikan hutan hujan tropis, tapi apa salahnya kita mulai dari sini? Kita gak bisa semua punya hutan hujan yang besar dan seimbang seperti yang ada di Australia atau Swiss. Tapi kita bisa mulai dari kecil, dengan cara lain menanam pohon-pohon yang serasi, seperti kelapa sawit, mangga, dan semangka. Kemudian kita bisa bereksperimen dengan cara budidaya alami, jadi tanaman tidak perlu digunakan pestisida atau bahan kimia lain yang berbahaya.
 
Saya pikir kalau pemanfaatan sawit benar-benar tidak bisa menggantikan hutan, tapi bukan berarti kita harus menyerah. Kita perlu mencari alternatif yang lebih baik lagi, misalnya penggunaan teknologi untuk membuat hutan digital. Tapi, saya juga pikir Anies ketinggalan satu hal, yaitu bagaimana kita bisa mengubah kebiasaan masyarakat yang seringkali tidak peduli dengan lingkungan. Kita butuh strategi yang lebih matang untuk mengubah peradaban ini, bukan hanya berbicara tentang pemanfaatan sawit atau hutan πŸŒ³πŸ’‘
 
Saya rasa kalau pemerintah harus fokus pada cara yang lebih baik untuk menjaga lingkungan, bukan hanya menggunakan lahan perkebunan sawit sebagai alternatif. Kalau kita sudah tidak bisa menghentikan polusi udara dan air, mungkin sudah waktunya kita mulai dengan hal-hal kecil seperti memperhatikan penggunaan air yang lebih baik atau menciptakan parkir mobil yang ramah lingkungan di Jakarta.
 
Siapa yang bilang kalau sawit bisa menggantikan hutan hujan tropis? Anies Baswedan sudah bilang jelas, tapi masih banyak orang yang tidak peduli dengan informasinya. Kalau nggak peduli dengan lingkungan, bagaimana kita bisa yakin kalau kaya yang ada di perkebunan itu bisa bertahan? Sawit kayak banget bawa kerusakan, banjir, dan kerusakan lainnya. Mereka bilang siapa tahu sawit punya siklus penyerapan karbondioksida sendiri, tapi sepertinya mereka nggak pernah lihat kayu yang diangkut oleh air bah itu!
 
Gue pikir Anies benar banget! Kalau kita buat banyak sawit, gak bisa menggantikan hutan hujan tropis yang penting banget di Indonesia πŸŒ³πŸ‘ Kita harus ingat, sawit dan pohon lainnya memiliki siklus penyerapan karbondioksida yang berbeda, jadi kalau kita punya banyak sawit, gak bisa menangkap semua CO2 yang kita buang 😐. Dan gue juga setuju dengan Anies, sawit tidak bisa menjadi habitat bagi harimau Sumatera dan hewan lainnya yang hidup di hutan 🦁🌴 Kita harus lebih waspada terhadap dampak lingkungan dari kegiatan pertanian kita! πŸ‘Ž
 
oh manisnya kalau pemerintah benar-benar mau teliti dulu sebelum nge-eksploitasi lahan ya 😊. kalau kelapa sawit tidak bisa menggantikan hutan hujan tropis, itu berarti kita harus lebih berhati-hati dengan cara pengelolaannya. kayaknya pemerintah harus makin konsultatif dengan masyarakat dan lembaga-lembaga konservasi terlebih dahulu sebelum nge-eksploitasi lahan. biar jangan ada kesalahpahaman lagi, gampang banget ya πŸ€”.
 
Udah capek dengerin kalau penggunaan lahan untuk perkebunan sawit jadi alternatif yang baik buat menyelamatkan lingkungan πŸ€¦β€β™‚οΈ. Tapi apa sih logikanya? Sawit kan punya siklus penyerapan karbondioksida yang beda, kayaknya gak bisa menggantikan hutan hujan tropis 🌳. Dan lagi, sistem akar pohon hutan dalam kompleks itu memungkinkannya menyerap air dan tanah, tapi sawit aja dangkal dan horizontal πŸ€”. Jadi, ketika hujan deras, air langsung mengalir di permukaan sawit, bukan ke dasar tanah seperti hutan 🌊.

Dan kalau saking pentingnya kelapa sawit, gak ada satwa hutan yang bisa hidup di perkebunan, kayak aja serigali πŸ‘€. Gajah, harimau Sumatera, dan badak semua membutuhkan hutan, tapi bukannya perkebunan sawit yang jadi habitat mereka 🐻🌴.

Aku rasa kalau penggunaan lahan untuk perkebunan sawit jadi solusi utama buat menyelamatkan lingkungan sih kayaknya salah faham πŸ€·β€β™‚οΈ. Kita harus sadar bahwa hutan hujan tropis masih penting banget, dan kita harus ciptakan kembali hutan itu dengan cara yang benar πŸ’š.
 
Saya rasa benar-benar jadi jawabannya, kalau kita ganti hutan dengan sawit itu nggak bakal bisa menyerap karbondioksida kayak hutan πŸŒ³πŸ’š Kita harus sadar bahwa sawit dan pohon lainnya memiliki siklus penyerapan yang berbeda, bukan bisa dijadikan alternatif untuk menyelamatkan lingkungan, tapi kita harus melindungi hutan dan semua spesies hutan di sana πŸ’ͺ🌴
 
Gue rasa kayaknya Anies Baswedan benar banget sih. Kalau kita jadikan sawit sebagai alternatif utama untuk menyelamatkan lingkungan, itu tidak akan cukup. Kita perlu sadar bahwa hutan hujan tropis memiliki siklus penyerapan karbondioksida yang berbeda dengan sawit. Lalu kayaknya buat kita lebih bijak dalam menangani masalah lingkungan, jangan cuma sekedar berbicara, lakukan aksi yang benar-benar berguna.
 
Gue pikir nih kalau apa yang terjadi di Sumatera bukan hanya karena hujan deras, tapi juga karena kita tidak bisa menilai potensi daerah yang ada dengan benar. Kelapa sawit itu gampang banget untuk terbakar dan kebakaran itu bisa menyebabkan kerusakan parah padan air. Gue rasa kalau kita harus lebih teliti dalam merencanakan perubahan lahan, jadi tidak ada korban yang tidak perlu. Selain itu, kita juga harus memperhatikan dampaknya pada spesies hutan, seperti harimau Sumatera, gajah, dan badak. Mereka membutuhkan habitat yang asli untuk hidup dengan baik, jadi kita harus berhati-hati dalam merencanakan perubahan lahan. 🌳πŸ”₯
 
saya pikir kalau gublnya bilang kalau sawit tidak bisa menggantikan hutan, tapi aku rasa perlu diulas lagi. mungkin gubnlanya takut kalah jika digunakan sebagai alternatif. tapi ternyata ada banyak spesies yang bisa hidup di sawit, jadi mungkin nggak sepenuhnya salah. tapi apa yang nggak seimbang kalau kita menghancurkan habitat mereka? kalau kita punya solusi yang lebih baik lagi, mending aja coba dan lihat apa yang terjadi
 
kembali
Top