Tiba-tiba terjadi amblasan tanah atau sinkhole di Nagari Situjuah Batua, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat. Fenomena ini melanda area pertanian dan menyebabkan lubang berdiameter sekitar 20 meter dengan kedalaman kurang lebih 15 meter.
Menurut Lana Saria, Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi, sinkhole terjadi akibat proses erosi buluh atau pengikisan tanah oleh aliran air bawah permukaan yang tidak secara tiba-tiba. Lokasi kejadian berada pada endapan pelapukan batuan vulkanik berupa tuf batu apung. Bukan pada batuan batu gamping sebagaimana umumnya sinkhole terbentuk.
Tekstur halus dan kandungan mineral lempung di lapisan batuan tersebut memicu aliran air tertahan dan menggerus lapisan tanah di atasnya. Faktor lain yang mempercepat proses erosi bawah permukaan adalah intensitas curah hujan yang tinggi, sekitar 2.000 hingga 2.500 milimeter per tahun.
Badan Geologi menyebut secara teknis amblesan diawali oleh terbentuknya rekahan di permukaan tanah, kemudian menjadi jalur masuk air ke dalam tanah, membentuk rongga bawah permukaan hingga akhirnya tanah runtuh.
Fenomena yang sama berpotensi terjadi di lokasi pertanian lain dengan kondisi geologi dan tata guna lahan serupa, terutama pada lahan pertanian intensif dengan sistem irigasi yang kurang baik. Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan meningkatkan kewaspadaan apabila muncul retakan tanah yang membesar.
Warga diimbau segera melaporkan kepada aparat setempat bila menemukan retakan tanah, agar dapat dikoordinasikan dengan instansi berwenang untuk penanganan lebih lanjut. Badan Geologi merekomendasikan, lubang yang terbentuk akibat sinkhole dapat dimanfaatkan sebagai tempat penyimpanan air dengan membuat pagar pengaman di sekitar lubang.
Dalam situasi seperti ini, petugas harus melakukan pendataan awal dan pemasangan garis polisi untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk. Masyarakat perlu menjaga dan mematuhi peraturan, serta tidak melewati garis polisi di sekitar tanah yang berlubang.
Ahli geologi dan mitigasi bencana geologi dan vulkanologi Ade Edward menyebut fenomena sinkhole atau tanah tiba-tiba berlubang kerap terjadi di daerah batu kapur, seperti Nagari Situjuah Batua. Kawasan subur ini umumnya dikelola oleh masyarakat setempat sebagai lahan pertanian.
Sifat dari kawasan batuan kapur adalah mudah larut jika terkena air hujan, kemudian terjadi retakan yang pada akhirnya menciptakan lubang besar atau disebut juga dengan fenomena sinkhole.
Menurut Lana Saria, Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi, sinkhole terjadi akibat proses erosi buluh atau pengikisan tanah oleh aliran air bawah permukaan yang tidak secara tiba-tiba. Lokasi kejadian berada pada endapan pelapukan batuan vulkanik berupa tuf batu apung. Bukan pada batuan batu gamping sebagaimana umumnya sinkhole terbentuk.
Tekstur halus dan kandungan mineral lempung di lapisan batuan tersebut memicu aliran air tertahan dan menggerus lapisan tanah di atasnya. Faktor lain yang mempercepat proses erosi bawah permukaan adalah intensitas curah hujan yang tinggi, sekitar 2.000 hingga 2.500 milimeter per tahun.
Badan Geologi menyebut secara teknis amblesan diawali oleh terbentuknya rekahan di permukaan tanah, kemudian menjadi jalur masuk air ke dalam tanah, membentuk rongga bawah permukaan hingga akhirnya tanah runtuh.
Fenomena yang sama berpotensi terjadi di lokasi pertanian lain dengan kondisi geologi dan tata guna lahan serupa, terutama pada lahan pertanian intensif dengan sistem irigasi yang kurang baik. Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan meningkatkan kewaspadaan apabila muncul retakan tanah yang membesar.
Warga diimbau segera melaporkan kepada aparat setempat bila menemukan retakan tanah, agar dapat dikoordinasikan dengan instansi berwenang untuk penanganan lebih lanjut. Badan Geologi merekomendasikan, lubang yang terbentuk akibat sinkhole dapat dimanfaatkan sebagai tempat penyimpanan air dengan membuat pagar pengaman di sekitar lubang.
Dalam situasi seperti ini, petugas harus melakukan pendataan awal dan pemasangan garis polisi untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk. Masyarakat perlu menjaga dan mematuhi peraturan, serta tidak melewati garis polisi di sekitar tanah yang berlubang.
Ahli geologi dan mitigasi bencana geologi dan vulkanologi Ade Edward menyebut fenomena sinkhole atau tanah tiba-tiba berlubang kerap terjadi di daerah batu kapur, seperti Nagari Situjuah Batua. Kawasan subur ini umumnya dikelola oleh masyarakat setempat sebagai lahan pertanian.
Sifat dari kawasan batuan kapur adalah mudah larut jika terkena air hujan, kemudian terjadi retakan yang pada akhirnya menciptakan lubang besar atau disebut juga dengan fenomena sinkhole.