Amerika Makin Pelit Kasih Visa, China Malah Sebaliknya

Peta kekuatan paspor dunia sedang mengalami perubahan besar-besaran. Laporan terbaru Henley Passport Index 2026 menunjukkan jurang yang makin lebar antara negara dengan mobilitas tertinggi dan terendah di dunia. Puncak peringkat masih dimiliki oleh Singapura, tetapi sebaliknya, Afghanistan kembali menempati posisi terbawah, hanya bisa masuk ke 24 negara tanpa visa.

Pertumbuhan global memang meningkat pesat, tapi manfaatnya tidak merata. "Mobilitas global tumbuh pesat, tapi kemudian penyebarannya kurang merata," kata Dr. Christian H. Kaelin, Chairman Henley & Partners. Negara-negara mulai memperketat perbatasan dan memperluas sistem pengawasan berbasis teknologi.

Kebijakan perbatasan kini menjadi faktor penting dalam akses ekonomi dan keamanan. Warga AS bebas masuk ke 179 negara, namun hanya memberi akses bebas visa kepada 46 negara lain, menempatkannya di peringkat 78 dari 199 negara.

Sebaliknya, China justru bergerak ke arah sebaliknya. Beijing membuka akses bebas visa ke lebih dari 40 negara dalam dua tahun terakhir dan kini menerima warga dari 77 negara tanpa visa. "Keterbukaan kini menjadi instrumen soft power," kata Dr. Tim Klatte dari Grant Thornton China.

Namun, ada kekhawatiran tentang rencana U.S. Customs and Border Protection yang berpotensi mengakhiri visa-free travel ke AS. Mulai 2026, warga dari 42 negara sekutu mungkin diwajibkan menyerahkan data pribadi ekstrem seperti riwayat media sosial 5 tahun, email dan nomor telepon 10 tahun, biometrik lengkap hingga DNA yang disimpan sampai 75 tahun. Ini membuka pintu penyaringan ideologi dan risiko penyalahgunaan data.

Sorotan tajam ke Amerika Serikat dan Inggris juga menunjukkan penurunan dalam akses bebas visa. AS kehilangan 7 destinasi, sementara Inggris kehilangan 8 dalam satu tahun terakhir. Erosi kekuatan paspor AS dan Inggris bukan sekadar teknis, tapi sinyal pergeseran geopolitik yang lebih dalam.

Pertanyaannya, apa yang akan terjadi dengan mobilitas global di masa depan? Apakah kita dapat menemukan keseimbangan antara keamanan, ekonomi dan kebebasan?
 
Kan, nggak bisa dibayangkan nanti bagaimana arah mobilitas globalnya. Dulu gini, semakin banyak negara yang terbuka, semakin luas pilihan kita untuk bebas bergerak ke mana-mana. Tapi sekarang, penutupan perbatasan dan pengawasan teknologi itu makin mematik. Apa yang akan diuntungkan sih?

Bisa jadi, semua ini hanya cara baru dari kerumunan besar yang terjadi di dunia ini. Kan, kita harus lebih berhati-hati dengan cara-cara yang digunakan oleh negara-negara untuk mengontrol akses mereka. Tapi nggak bisa kita anggap sepele ya, karena itu mempengaruhi hidup kita setiap hari.
 
Aku paham kalau paspor Indonesia masih belum bisa masuk ke negara-negara tertentu tanpa visa, tapi aku sengaja nggak coba cari informasi tentang itu 🤔. Aku lebih penasaran dengerin kisah Afrikaan kembali menempati posisi terbawah di paspor dunia, itu kayaknya sangat berat ya 🙈. Dan siapa nih yang bisa memprediksi apa yang akan terjadi dengan mobilitas global di masa depan? Aku hanya harap semuanya tetap aman dan tidak ada perubahan besar-besaran di negara-negara tertentu, tapi aku tahu itu cuma keinginan seseorang 🤷‍♂️.
 
oh iya, nih... perubahan paspor dunia ini benar-benar makin kompleks banget, kan? seperti sih, Singapura masih menjadi puncak peringkat, tapi Afghanistan jadi yang terbawah. itu bukti bahwa keamanan dan ekonomi gini tidaklah sama-sama bisa. Amerika Serikat dan Inggris juga mengalami penurunan akses bebas visa, itu menunjukkan ada pergeseran geopolitik yang lebih dalam.

tapi, kunci dari semua ini adalah bagaimana kita bisa menemukan keseimbangan antara keamanan, ekonomi, dan kebebasan. karena sih, teknologi sudah makin canggih banget, tapi itu juga bisa berdampak negatif jika tidak diatur dengan benar. seperti sih, rencana U.S. Customs and Border Protection yang ingin mengakhiri visa-free travel ke AS, itu menunjukkan perbedaan antara pro dan kontra.

kita harus ingat bahwa mobilitas global bukan hanya tentang ekonomi, tapi juga tentang keseimbangan dan ketidaksetaraan. kita harus bisa menemukan solusi yang bisa membuat semua orang merasa aman dan nyaman. karena sih, tidak ada satu-satu cara yang benar, tapi kita harus mencoba berbagai cara untuk menemukan jawabannya. 😊👍
 
Bisa aja sih kalau negara-negara mulai lebih fokus pada keamanan dan kemudian kekuatan paspor-nya pun naik. Saya lihat grafik di thread ini, peringkat Singapura masih stabil sekitar 5 tahun terakhir 📈 tapi negara lain seperti AS dan Inggris sedang mengalami penurunan. Menurut data dari Henley & Partners, pertumbuhan visa-free travel globalnya masih pesat, 71% meningkat sejak 2016 📊. Tapi kalau kita lihat peringkat Asia, China dan Singapore tetap di atas, tapi Indonesia masih jauh dari itu 🤔. Saya rasa kemudian kita harus meninjau kembali kebijakan visa kita sendiri agar tidak tertinggal.
 
Saya pikir ini salah satu contoh bagaimana teknologi bisa digunakan untuk mengontrol orangorang. Mereka berbicara tentang biometrik dan data pribadi, tapi apa yang akan terjadi dengan privasi kita? Saya ingat saat ini masih bisa bebas bergerak ke mana saja dan ketika saja, sekarang mereka ingin kita memberikan data-data pribadi seperti DNA sampai 75 tahun. Itu bukan kebebasan, itu pengawasan!
 
kembali
Top