Di Casamance, sebuah region di selatan Senegal, terdapat sungai besar dengan dua sumber air. Di kawasan ini tinggal suku Jola atau Diola yang menjadikan padi sebagai beras utama mereka. Agama Awasena, yang dikabarkan dilanda tekanan kolonialisme Prancis dari abad ke-20, berfokus pada pencipta alam dan tuhan hujan. Menurut Olga F. Linares dalam buku "African Rice (Oryza glaberrima): History and Future Potential", di agama Jola, Emitai adalah dewa pencipta, hujan, kehidupan, dan kematiannya.
Menurut penelitian yang dilakukan Robert Baum dalam karya "West Africa's Women of God" (2016), terdapat beberapa perempuan yang dipandang sebagai nabi di Casamance. Sebelum Aline Sitoé Diatta muncul, tercatat ada seorang Ratu Sibeth dari Siganar dan jiwa berani yang bernama Jiïnaabo. Mereka menolak perubahan-perubahan yang ditawarkan oleh kolonialisme dan mempertahankan kehidupan tradisional.
Aline lahir sekitar tahun 1920 di Kabrousse, sebuah desa kuno yang terletak di Casamance. Ia ditinggalkan pamannya karena dia mengeluhkan pajak atau masalah lain dengan pemerintah kolonial Prancis. Keluarganya kehilangan harta dan tempat tinggal mereka disita oleh otoritas kolonial setelah kaburannya berpindah dari Kabrousse. Aline bekerja sebagai buruh di Ziguinchor, mengangkut karung kacang tanah, sebelum melanjutkan perjalanan ke Dakar. Di sana ia menikah dengan Alou Gaye Diatta dan menjadi pembantu rumah tangga bagi keluarga Prancis.
Di Dakar Aline menyaksikan erosi budaya Afrika yang semakin berat pada tahun-tahun Perang Dunia II. Aline menerima penglihatan suara-suara, seperti suara Emitai, dan menurut dirinya itu adalah panggilan untuk menghentikan kekeringan dengan menggunakan jalan leluhur. Ia mendirikan kuil dan mengajak orang-orang untuk tidak membayar pajak, menghindari budidaya kacang tanah sebagai tanaman dagang utama, dan melakukan perjamuan bersama.
Gerakan Aline memicu beberapa konflik terbatas di Casamance. Meskipun sering disebut sebagai revolusioner, ia menolak untuk mengakui otoritas kolonial atas kekuasaan spiritual yang diterimanya dari Emitai dan melarang pembayaran pajak kepala dengan alasan tanah adalah milik Emitai dan orang kulit putih tidak berhak memajakinya. Gerakan ini mendapatkan dukungan besar dari perempuan di pasar, serta mengutamakan perjuangan anti-kolonial.
Setelah penangkapannya pada tahun 1942, Aline dipindahkan ke beberapa lokasi yang berbeda dan akhirnya meninggal dunia pada 22 Mei 1944 setelah menahan dirinya selama satu tahun. Kematiannya dikabarkan tidak diberitahukan kepada keluarga atau masyarakat umum, tapi dikecualikan dari penemuan, barang-barangnya diminta oleh otoritas kolonial, dan siapa pun yang berusaha mengunjunginya juga akan dihukum.
Menurut penelitian yang dilakukan Robert Baum dalam karya "West Africa's Women of God" (2016), terdapat beberapa perempuan yang dipandang sebagai nabi di Casamance. Sebelum Aline Sitoé Diatta muncul, tercatat ada seorang Ratu Sibeth dari Siganar dan jiwa berani yang bernama Jiïnaabo. Mereka menolak perubahan-perubahan yang ditawarkan oleh kolonialisme dan mempertahankan kehidupan tradisional.
Aline lahir sekitar tahun 1920 di Kabrousse, sebuah desa kuno yang terletak di Casamance. Ia ditinggalkan pamannya karena dia mengeluhkan pajak atau masalah lain dengan pemerintah kolonial Prancis. Keluarganya kehilangan harta dan tempat tinggal mereka disita oleh otoritas kolonial setelah kaburannya berpindah dari Kabrousse. Aline bekerja sebagai buruh di Ziguinchor, mengangkut karung kacang tanah, sebelum melanjutkan perjalanan ke Dakar. Di sana ia menikah dengan Alou Gaye Diatta dan menjadi pembantu rumah tangga bagi keluarga Prancis.
Di Dakar Aline menyaksikan erosi budaya Afrika yang semakin berat pada tahun-tahun Perang Dunia II. Aline menerima penglihatan suara-suara, seperti suara Emitai, dan menurut dirinya itu adalah panggilan untuk menghentikan kekeringan dengan menggunakan jalan leluhur. Ia mendirikan kuil dan mengajak orang-orang untuk tidak membayar pajak, menghindari budidaya kacang tanah sebagai tanaman dagang utama, dan melakukan perjamuan bersama.
Gerakan Aline memicu beberapa konflik terbatas di Casamance. Meskipun sering disebut sebagai revolusioner, ia menolak untuk mengakui otoritas kolonial atas kekuasaan spiritual yang diterimanya dari Emitai dan melarang pembayaran pajak kepala dengan alasan tanah adalah milik Emitai dan orang kulit putih tidak berhak memajakinya. Gerakan ini mendapatkan dukungan besar dari perempuan di pasar, serta mengutamakan perjuangan anti-kolonial.
Setelah penangkapannya pada tahun 1942, Aline dipindahkan ke beberapa lokasi yang berbeda dan akhirnya meninggal dunia pada 22 Mei 1944 setelah menahan dirinya selama satu tahun. Kematiannya dikabarkan tidak diberitahukan kepada keluarga atau masyarakat umum, tapi dikecualikan dari penemuan, barang-barangnya diminta oleh otoritas kolonial, dan siapa pun yang berusaha mengunjunginya juga akan dihukum.