Aline Sitoe Diatta, nabi perempuan di Casamance, dianggap sebagai pejuang anti-kolonial berani. Ia menghadapi penjajahan Prancis dan menolak membayar pajak serta mengenakan agama asing.
Dalam budaya Jola, padi dianggap anugerah langsung dari dewa pencipta yang disebut Emitai. Meskipun pemerintah kolonial memaksakan budidaya kacang tanah sebagai tanaman dagang utama, Aline menolak melanjutkan kebiasaan tersebut. Ia menghidupkan kembali enam hari kerja tradisional Jola, dengan hari ketujuh sebagai hari istirahat suci.
Gerakan boikot yang dijalankan Aline efektif karena melibatkan perempuan yang memegang kendali atas distribusi pangan dan lumbung padi. Namun, konsekuensinya adalah pembangkangan sipil, termasuk menolak wajib militer dan kerja paksa.
Pada 1942 hingga awal 1943, Casamance menjadi wilayah yang sulit dikendalikan oleh Prancis. Mereka melihat gerakan Aline sebagai ancaman politik yang dapat memengaruhi etnis lain dan mengganggu suplai beras yang krusial bagi Dakar dan Saint-Louis.
Setelah penangkapan, Aline ditahan di Timbuktu hingga meninggal dunia pada 22 Mei 1944. Kematiannya dirahasiakan, ia dikuburkan di makam tak bertanda, barang-barangnya disita, dan siapa pun dilarang menziarahinya.
Dalam budaya Jola, padi dianggap anugerah langsung dari dewa pencipta yang disebut Emitai. Meskipun pemerintah kolonial memaksakan budidaya kacang tanah sebagai tanaman dagang utama, Aline menolak melanjutkan kebiasaan tersebut. Ia menghidupkan kembali enam hari kerja tradisional Jola, dengan hari ketujuh sebagai hari istirahat suci.
Gerakan boikot yang dijalankan Aline efektif karena melibatkan perempuan yang memegang kendali atas distribusi pangan dan lumbung padi. Namun, konsekuensinya adalah pembangkangan sipil, termasuk menolak wajib militer dan kerja paksa.
Pada 1942 hingga awal 1943, Casamance menjadi wilayah yang sulit dikendalikan oleh Prancis. Mereka melihat gerakan Aline sebagai ancaman politik yang dapat memengaruhi etnis lain dan mengganggu suplai beras yang krusial bagi Dakar dan Saint-Louis.
Setelah penangkapan, Aline ditahan di Timbuktu hingga meninggal dunia pada 22 Mei 1944. Kematiannya dirahasiakan, ia dikuburkan di makam tak bertanda, barang-barangnya disita, dan siapa pun dilarang menziarahinya.