Rusia menganggap pasukan Barat di Ukraina sebagai target sah. Pertanyaannya, apa yang membuat Moskow mengambil sikap seperti itu? Rusia sudah menentang kehadiran pasukan Barat di Ukraina dengan lama dan keras. Sekarang, Rusia tidak segan lagi untuk menganggap pasukan tersebut menjadi target sah.
Pernyataan Rusia tentang pasukan Barat di Ukraina disampaikan dalam bentuk peringatan untuk negara-negara lain yang berencana mengirimkan pasukan ke Ukraina. Kementerian Luar Negeri Rusia memperingatkan bahwa pengerahan unit militer, fasilitas militer, gudang, dan infrastruktur lainnya milik negara-negara Barat di wilayah Ukraina akan diklasifikasikan sebagai intervensi asing.
Rusia sudah mengetahui kehadiran pasukan Barat di Ukraina sejak lama. Oleh karena itu, tidak heran bahwa Moskow mengambil sikap tegas dan melarang kehadiran pasukan tersebut. Dengan demikian, Rusia dapat menghindari keberadaan pasukan yang dikira sebagai ancaman bagi keamanannya.
Pertemuan antara Prancis, Inggris, dan Ukraina untuk membahas rencana pengerahan pasukan multinasional di Ukraine juga berdampak pada sikap Moskow. Pernyataan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer tentang keinginannya untuk "membangun fasilitas yang melindungi senjata dan peralatan militer" hanya menambahkan kesan bahwa pasukan Barat di Ukraina adalah target sah bagi Rusia.
Sementara itu, Ukraina sangat menginginkan pasukan multinasional masuk ke negaranya. Namun, keinginannya ini tidak dapat dipenuhi jika tidak ada jaminan keamanan yang cukup dari pihak Barat. Oleh karena itu, pertemuan di Prancis untuk membahas rencana pengerahan pasukan multinasional menjadi langkah kunci dalam mencapai kesepakatan damai antara Rusia dan Ukraina.
Jaminan keamanan yang disepakati oleh Koalisi Sukarelawan juga dapat mempengaruhi sikap Moskow. Pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron tentang jaminan keamanan ini adalah langkah yang signifikan dalam mencapai kesepakatan damai.
Namun, masih banyak pertanyaan yang harus dijawab sebelum pasukan Barat dapat masuk ke Ukraina. Pertanyaannya, apakah Putin siap untuk berkompromi dan menandatangani perjanjian perdamaian?
Pernyataan Rusia tentang pasukan Barat di Ukraina disampaikan dalam bentuk peringatan untuk negara-negara lain yang berencana mengirimkan pasukan ke Ukraina. Kementerian Luar Negeri Rusia memperingatkan bahwa pengerahan unit militer, fasilitas militer, gudang, dan infrastruktur lainnya milik negara-negara Barat di wilayah Ukraina akan diklasifikasikan sebagai intervensi asing.
Rusia sudah mengetahui kehadiran pasukan Barat di Ukraina sejak lama. Oleh karena itu, tidak heran bahwa Moskow mengambil sikap tegas dan melarang kehadiran pasukan tersebut. Dengan demikian, Rusia dapat menghindari keberadaan pasukan yang dikira sebagai ancaman bagi keamanannya.
Pertemuan antara Prancis, Inggris, dan Ukraina untuk membahas rencana pengerahan pasukan multinasional di Ukraine juga berdampak pada sikap Moskow. Pernyataan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer tentang keinginannya untuk "membangun fasilitas yang melindungi senjata dan peralatan militer" hanya menambahkan kesan bahwa pasukan Barat di Ukraina adalah target sah bagi Rusia.
Sementara itu, Ukraina sangat menginginkan pasukan multinasional masuk ke negaranya. Namun, keinginannya ini tidak dapat dipenuhi jika tidak ada jaminan keamanan yang cukup dari pihak Barat. Oleh karena itu, pertemuan di Prancis untuk membahas rencana pengerahan pasukan multinasional menjadi langkah kunci dalam mencapai kesepakatan damai antara Rusia dan Ukraina.
Jaminan keamanan yang disepakati oleh Koalisi Sukarelawan juga dapat mempengaruhi sikap Moskow. Pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron tentang jaminan keamanan ini adalah langkah yang signifikan dalam mencapai kesepakatan damai.
Namun, masih banyak pertanyaan yang harus dijawab sebelum pasukan Barat dapat masuk ke Ukraina. Pertanyaannya, apakah Putin siap untuk berkompromi dan menandatangani perjanjian perdamaian?