Hakim Mahkamah Konstitusi Anwar Usman menjelaskan alasan ketidakhadirannya sering terjadi di sidang MK. Menurutnya, ia mengalami gangguan kesehatan serius sejak awal 2025 yang membuatnya harus menjalani perawatan intensif dan pengobatan jangka panjang.
"Hanya saya sendiri saja yang tahu betapa serius penyakit ini," kata Anwar Usman. Ia mengaku dilarikan ke rumah sakit setelah kejadian tersebut dan harus menjalani rawat inap. Proses pemulihannya membutuhkan waktu panjang, bahkan hingga satu sampai dua tahun.
Anwar Usman juga menegaskan bahwa ia tidak pernah mengambil cuti selama berkarier sebagai hakim, baik saat bertugas di Mahkamah Agung maupun di MK. Ia menunjukkan kotak obat yang dibawanya kepada wartawan dan menjelaskan bahwa ia harus rutin mengonsumsi obat tiga hingga empat kali sehari.
"Saya ini orang yang tidak pernah yang namanya cuti, insyaAllah enggak pernah," kata Anwar Usman. Ia juga menegaskan tidak terima atas laporan kinerja hakim MK tahun 2025 yang dirilis Mahkamah Kehormatan Mahkamah Konstitusi (MKMK) karena mencatat dirinya sebagai hakim dengan tingkat ketidakhadiran tertinggi.
"Enggak (terima)," kata Anwar Usman. Ia mengaku langsung menghubungi pihak sekretariat MK untuk meminta penjelasan.
"Hanya saya sendiri saja yang tahu betapa serius penyakit ini," kata Anwar Usman. Ia mengaku dilarikan ke rumah sakit setelah kejadian tersebut dan harus menjalani rawat inap. Proses pemulihannya membutuhkan waktu panjang, bahkan hingga satu sampai dua tahun.
Anwar Usman juga menegaskan bahwa ia tidak pernah mengambil cuti selama berkarier sebagai hakim, baik saat bertugas di Mahkamah Agung maupun di MK. Ia menunjukkan kotak obat yang dibawanya kepada wartawan dan menjelaskan bahwa ia harus rutin mengonsumsi obat tiga hingga empat kali sehari.
"Saya ini orang yang tidak pernah yang namanya cuti, insyaAllah enggak pernah," kata Anwar Usman. Ia juga menegaskan tidak terima atas laporan kinerja hakim MK tahun 2025 yang dirilis Mahkamah Kehormatan Mahkamah Konstitusi (MKMK) karena mencatat dirinya sebagai hakim dengan tingkat ketidakhadiran tertinggi.
"Enggak (terima)," kata Anwar Usman. Ia mengaku langsung menghubungi pihak sekretariat MK untuk meminta penjelasan.